Akhir-akhir ini kita sering dengar perkataan-perkataan semacam, “Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran”, “Kita harus menjaga nilai-nilai dan norma-norma kita agar tidak dipengaruhi budaya lain”, dan lain-lain yang semisalnya..
Terus terang saya termasuk orang yang tidak setuju dengan anggapan bahwa nilai-nilai itu adalah sebuah anugrah, warisan, dan sesuatu yang sakral dan tidak boleh diganggu gugat. Padahal sebagaimana rumusan dari manusia yang pasti ada kekurangannya, nilai-nilai ini sepatutnya lebih kepada sebuah pencarian bentuk yang terus menerus, seiring dengan bertambahnya ilmu, semakin beradab, dan tentu saja semakin pahamnya kita terhadap agama.
Nilai-nilai dan norma-norma masyarakat yang merupakan rangkuman dari kebijakan pendahulu kita tentunya pasti ada kekurangannya, apalagi dengan berjalan seiringnya waktu dan perubahan. Setiap saat nilai-nilai ini harus kita sempurnakan, perbaiki, ambil yang baiknya, buang yang buruknya, lengkapi yang masih kurang, dan lain-lain disamping mempertahankan yang baik dan bermanfaat.
Hal ini tentunya berbeda dengan aturan-aturan agama yang kita yakini sebagai wahyu yang sempurna yang datangnya dari yang telah menciptakan kita.
Comments Off
Selama ini sangat sedikit informasi atau bimbingan disediakan untuk siswa-siswi menentukan arah, minat, cita-cita atau target ke masa datang. Padahal ini adalah hal yang sangat menentukan keberhasilan di masa datang, bahkan bisa dikatakan lebih penting daripada pemberian ilmu pengetahuan, keterampilan dan lain-lain yang merupakan bekal, bahan bakar, atau kendaraan untuk menuju tujuan tersebut.
Analoginya sangat sederhana, jika hidup ini adalah perjalanan, saat ini banyak sekali dari kita yang tidak tahu arah, asal gas saja, dan asal jalan saja. Kita tidak pernah tahu sebenarnya tujuan kita akan kemana, yang kita lakukan adalah asal jalan saja. Bisa jadi memang jarak yang telah kita tempuh sangat jauh tapi bukan tidak mungkin justru menjauhi tujuan kita.
Jika kita tidak tahu tujuan kita dari Makassar adalah Jakarta, kita langsung buru-buru beli tiket pesawat ke Amerika, setelah itu ketika diatas pesawat baru tahu kalau kita akan ke Jakarta, tentu kita harus balik, itupun kalau masih punya dana untuk balik. Alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita mencari tahu tujuan kita, bahkan bisa dikatakan jauh lebih baik kita menunggu sampai ada kepastian tujuan.
Mungkin kita yang telah bekerja saat ini, sudah mulai merasakan, betapa banyak bahan bakar yang dulu kita keluarkan percuma. Betapa banyak materi dan pelajaran yang telah kita telan tanpa tahu apa tujuan, selain untuk memenuhi tuntutan sekolah. Memang sih tidak ada ilmu yang sia-sia, tapi bukankah akan lebih baik jika dulu kita belajar apa yang kita butuhkan untuk tujuan kita nanti, kalaupun ada bidang yang lain di luar target jangka panjang, setidaknya mempelajari itu adalah pilihan kita, bukan cuman keharusan bahkan keterpaksaan.
Jadi coba kita sekarang kita tentukan arah yang benar, baru silahkan atur gas sesuai keinginan dan kemampuan kendaraan kita.
Comments Off
Dulu waktu masih jahiliyah, Bair punya cita-cita untuk jadi orang besar untuk bisa membahagiakan dan menjadi kebanggaan orang tua ku yang sangat Bair sayangi. Dulu kebayang cara untuk membahagiakan mereka untuk membalas semua yang mereka berikan sejak Bair masih dalam kandungan sampai sekarang adalah dengan berusaha meberikan semua apa yang terbaik di dunia ini. Padahal, jujur saja untuk obsesi pribadi Bair sendir tidak terlalu macam-macam, Bair pribadi sudah cukup bahagia kalo nantinya bisa kerja yang menyenangkan dan hidup di lingkungan yang tenang, tentram, dan tiap hari bisa ketawa ketiwi serta becanda dengan teman-teman dan keluarga, tapi karena berpikir untuk menyenangkan orang tua Bair jadi memasang target yang besaaar sekaaalii dalam hal keduniaan.
Alhamdulillah sewaktu kuliah berkat do’a dari ibu bapak, Bair bisa mendapat lingkungan yang bisa lebih mencerahkan Bair. Ketertarikan dan minat Bair untuk belajar jadi manusia yang lebih baik, sangat ditunjang lingkungan yang sarat majelis-majelis ilmu. Bair masih ingat waktu itu salah satu kata-kata Ustad yang intinya begini,
“Satu-satunya cara agar bisa membalas apa yang diberikan oleh orang tuamu, adalah dengan mengusahakan bagaimana mereka bisa bahagia di akhirat. Ingat semua yang kalian berikan di dunia ini tidak dapat membalas air susu ibu-ibu kalian, rasa kantuk bapak-bapak kalian yang bangun di tengah malam mengganti popok,… Keduniaan itu hanyalah tambahan dan fasilitator saja, bukan segalanya..”
Sejak itu Bair berjanji akan selalu memprioritaskan bagaimana orang tuaku bisa bahagia di akhirat, mulai dari membagi ilmu agama khususnya tauhid, selalu mendoakan mereka, menjaga nama baik mereka, menasehati mereka dalam berbagai hal yang perlu dinasehati dan sudah sampai ilmunya pada Bair.
Ya.. Bair akui Bair kadang kurang bijak, itu semua karena kebodohan Bair juga dalam menyampaikan, Alhamdulillah orang tua Bair bisa menerima dan justru senang.
Mudah-mudahan Bair bisa istiqomah, dan berusaha untuk bisa memberikan tambahan *dunia* dengan menjadi manusia yang bermanfaat dan barokah bagi semua, untuk membuat mereka bangga.
Hmm.. kalau ada yang bilang Bair riya, dengan menceritakan ini semua, Bair jawab.. itu tidak benar, sebab yang Bair ceritakan ini adalah sesuatu yang wajib, sehingga memang sebaiknya ditampakkan, karena kondisi defaultnya sudah seharusnya semua orang begitu.
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
Artinya: “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil”
Comments Off
Memang manusia *termasuk Bair* agak aneh, sudah tahu akhirat itu pokoknya semuanya jauhhh lebihhhh dari dunia tapi perlakuan terhadap keduanya terbalik.
Untuk urusan dunia orang akan mencari aman selalu dengan berusaha mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa membuat dirinya terhindar dari kemalangan dan tentu saja bisa memperoleh kebahagiaan di dunia yang sementara ini. Mulai dari belajar masalah dunia biar mahal dan keujung dunia tetap diusahakan, mencari relasi dan pertemanan yang menguntungkan keduniaannya, sampai mencari asuransi masalah A sampai Z biar bisa mengantisipasi segala kemungkinan di dunia katanya. Sedangkan untuk akhirat orang nyantai-nyantai aja, bahkan kalau sudah melakukan sedikit dari hal yang wajib saja sudah aman katanya, padahal belum tentu ikhlas dan benar.
Tidak seperti masalah dunia, orang menggampangkan mencari ilmu akhirat dari sumber-sumber yang tidak jelas kebenarannya, merujuk dari sembarang orang, bahkan banyak yang ibadahnya hanya ikut kebiasaan masyarakat saja sudah cukup. Sedangkan untuk urusan dunia, jika sakit misalnya dia selalu mencari dokter terbaik, bahkan ekstreem-nya tidak ada yang mau dibedah jantung oleh dokter mata, apalagi dokter gigi. Padahal kemungkinan terburuknya dia hanya akan meninggal dan kalaupun sempat tersiksa, ya paling lama.. seukuran umur manusialah, hmm sedangkan kalau keliru mencari pertolongan untuk masalah keselamatan akhirat bisa-bisa menderitanya selamanya.
Belum lagi kalau mau terima imbalan di dunia, langkah kita cepat sekali, begadang kerjapun kita bela-belain demi gaji di dunia, akan tetapi gaji di akhirat dimana janjinya adalah berjumpa dengan Allah Subhanawata’ala dan balasan surga dengan segala kenikmatannya yang tiada tara sering sekali kita cuekin.
Sepertinya iman dan aqidah kita masih perlu banyak diperbaiki kawan !!!!
Comments Off

Tim 3 IPA; Berdiri: Toto’, Linus, Ammink, Palelo, Adnan; Jongkok: Adi, Bair, Umar,Yonas; Duduk: Alan; Yang tidak ikut foto: Chulu’, Puding, Adank
Baru buka-buka file foto, eh ketemu foto SMA dulu yang dikirim Adnan lewat milis. Kalo da’ salah foto ini ada foto besarnya yang dibingkai jadi hadiah juara turnamen bola di sekolah *bangganya mo :)*..
Hmm sempat mikir juga ternyata sekolahku SMU YPS di Sorowako dulu lengkap sekali fasilitas olahraganya, ada lapangan bolanya, lapangan volly, lapangan tennis, lapangan basket, F Gym yang bisa dipakai untuk bulutangkis, senam, dll. Dan kalau dilihat di latar belakang foto ini adalah pantai IDE, salah satu tempat berenang favorit di Danau Matano, berarti ada juga kolam renangnya… malah daya tampungnya tidak terbatas hehehe…
Itu baru fasilitas olahraganya, belum fasilitas penunjang lainnya, seperti bis shuttle antar jemput untuk siswa, fasilitas ruangan dan lab yang memadai, guru-guru pilihan dengan gaji lebih dari cukup, serta murid-murid yang cakep, cerdas, dan keren. Dukungan finansial dari yayasan yang dikelola PT INCO, serta dari orang tua yang hampir semua adalah karyawan PT INCO. Pokoknya sekolahku top dahhh…
Tapi heran juga kalau ingat prestasi sekolahku boleh dibilang melempem dalam bidang apapun untuk tingkat nasional,.. jauh tertinggal dari sekolah teman-teman kuliahku yang kalau mau dilihat fasilitasnya banyak yang jauh dibawah sekolahku dulu.
Ternyata dari pengamatan Bair yang sok tau, salah satu yang sangat kurang di sekolahku adalah semangat untuk berprestasi karena kurangnya kompetisi didalam sekolah maupun dari luar sekolah.
Di dalam sekolah entah kenapa semangat untuk menonjol dalam bidang positif tertentu tidak terlalu berbudaya dan dibudayakan. Sedangkan kompetisi dari luar sekolah hampir sama sekali tidak ada, dimana disekitar sekolahku tidak ada sekolah yang dekat dan bisa menjadi sparing partner yang seimbang, paling dekat adalah sekolah-sekolah Makassar yang jaraknya lebih dari 600 km.
Hmm saya rasa ini tantangan untuk kita semua yang cinta dengan SMA YPS, bagaimana caranya bisa mencari solusi masalah kurangnya kompetisi yang menghambat prestasi ini.
Comments Off
|