Proses Itu Indah Jendral, eh salah Kawan

Uncategorized February 22nd, 2008

Pernah tidak melakukan sesuatu dengan sebaik2nya dan akhirnya gagal tapi tetap senang, atau bahkan melakukan sesuatu dengan senang tanpa terlalu peduli hasil akhirnya? Kalau pernah selamat anda termasuk orang yang berbahagia hehhe. Sebab sebagian besar waktu yang akan kita temui adalah proses, sedangkan menikmati hasil akhir itu kadang waktunya jauh lebih singkat dari proses mendapatkannya. Sebagai pengantar saya sendiri punya pengalaman pribadi yang walaupun sepele tapi cukup menginpirasi saya.

Kisah itu adalah perjuangan saat kelas 3 dimana kelas ku (III IPA 1 suit2 hehhe, yang ketua kelasnya paling keren itu lho :) ) berencana untuk membeli sesuatu untuk kenang2an, yang waktu itu klo gak salah kita berencana untuk membeli jaket seragam untuk kelas. Keputusan kenang2an jaket disini mengalahkan usul Mail, Umar dan Palelo yang ingin memesan sapu tangan seragam untuk kelas hehehe. Pada saat dicetuskan ide untuk membeli jaket itu, kita semua sepakat bagaimana kalo kita coba tanpa harus mengeluarkan uang khusus, bagaimana kalo kita berusaha memperoleh dari kerja bareng2, ntar kalau kurang baru kita tambah pakai uang minta dari Ortu.

Kesempatan untuk ngumpulin uang bareng2 muncul, saat kita mendapat modal awal untuk kelas dari hadiah juara II lomba lampion di Sorowako. Tentang lomba ini jujur aja kelasku diuntungkan oleh hujan yang sempat terjadi di tengah lomba, sehingga juri agak kurang objektif hehehe. Jadi ingat waktu itu ada anak SD yang tema lampionnya ikan, karna tidak smpat dilindungi waktu hujan sesaat tapi cukup deras itu alhasil menjadi lampion tulang ikan hehhee.

Sedikit pengakuan dosa berkaitan dengan lomba lampion, dimana saat arak2an membawa lampion, hampir seisi kelas berpartisipasi, sehingga mubazir kalo semua ikut iring2an lampion aja. Akhirnya yg gak ikut bawa lampion diberdayakan untuk menjalankan taktik jitu yang licik :p. Garis besarnya, sebagian dari kita akan ikut jalan tapi dipinggir jalan dan sesekali bergabung bersama penonton yang ada di belakang juri yang tersebar sepanjang rute. Maka setiap lampion kelas kami lewat maka, tim yang berada di belakang juri akan tepuk tangan dan memuji habis2an lampion kelas kami, sehingga penonton yang latah akan ikut tepuk tangan dan memuji hahahaha.

Dengan modal dari lampion tersebut kami mulai mengadakan bazar yang waktu itu saingan dengan kelas tetangga. Tau sendiri kalo kelas 3 yang bikin bazar maka yang akan menderita adalah kelas 1 dan 2. Mereka harus waspada dari bujuk rayu kakak kelas, dimana suasana sekolah menjadi tidak aman dan mencekam, paling aman adalah untuk tidak sering2 keluar dari kelas, setiap mau lewat lorong harus memastikan tidak ada kakak kelas yang jualan kupon bazar hahaha. Oh ya bazar ini cukup gede untungnya apalagi ada beberapa orang tua yang ngasih modal bahan dan gak mau diganti (padahal kita juga memang berharap gitu dari awal heheh).

Kita juga sesekali jualan di even2 sekolah, dengan mengambil barang dagangan tanpa bayar dari toko Rasdi *Apa kabar Bu’?*, dimana perjanjiannya yg laku aja yang dibayar, sedangkan yang tidak laku dikembalikan :) (hebat kan taktik dagangnya, makanya klo mo buat usaha modal bukan segalanya, masih ada jalan lain klo emang benar niat). Salah satunya yg saya paling ingat adalah saat ada acara berkemah pembuka khusus untuk anak kelas 1 di Bumper, disitu kita juga ikut bikin tenda untuk stand jualan ck ck ck (Pren2 masih ingat tragedi kayu ubi *yg seharusnya ubi kayu* dan ada yang pulang ngambek di tengah malam ?? hehhe).

Ditambah lagi wali kelas Bu Jen *halo Ibu Guru ku?* yang kompak untuk nyariin tender2 pesanan kue2 dan minuman di acara guru2. Alhasil akhirnya uang kas kita boleh dibilang ‘cukup’ untuk memesan lengan kiri jaket untuk seluruh kelas. Akan tetapi entah bagaimana dan yg pasti memang belum rejeki uang tersebut hilang dan berimbas anak2 jadi malas pesan jaket, dan tentang kejadian hilangnya uang tersebut tidak akan diceritakan disini karna saya juga gak terlalu paham ceritanya. Tapi jujur saya pribadi dan beberapa teman cowok gak terlalu kecewa (walopun sering diledekin kelas sebelah yang jadi beli jaket huhuhu), karna saat berjuang mencari uang itu lah sumber kebahagiaanya, bahkan tanpa memperoleh hasil prosesnya tadi (walopun mungkin lebih senang kalo dapat uangnya hehee). Yang saya ingat ketika bekerja disitu, saya dan teman2 tidak merasa terpaksa untuk melakukan semua tugas kerja untuk kelas, malahan merasa dapat aktivitas yang menyenangkan dilakukan bersama2 teman2 kelas.

Pengalaman ini cukup menjadi pelajaran bagi saya, makanya sejak saat itu saya bertekad dalam segala sesuatu ingin melakukan dengan senang, jika tidak senang akang diusahakan dan dirubah biar senang, atau ujung2nya take it or leave it kerjaan itu.

Coba bayangkan kalo apa yang kita buru hanya hasil saja, tanpa memperdulikan proses. Misalnya kita ingin jadi sarjana, selama memburu sarjana tersebut kita tidak melakukannya dengan senang, minimal 4 tahun kita sengsara, dan kemudian hanya senang ketika jadi sarjana yang hanya sekitar 1-2 bulan, karna setelah itu kita harus memasang target lain lagi seperti mencari kerja dan karena itu harus menunda kebahagiaan kita selama proses memperoleh target kita itu, dan begitu seterusnya sampai peot.. hehe.

Contoh lain adalah orang2 skarang yang cenderung bekerja habis2an walaupun banyak hal yang harus dikorbankan termasuk kebahagiaan saat ini dan amit2 kalo kebahagiaan di akhirat juga dikorbankan (Na’uzubillahi min dzalik), menanti saat bisnis sukses dan tinggal mengalir atau saat pensiun bisa menikmati hasil tabungan dan ivestasinya, gimana kalo 1 hari sebelum pensiun meninggal, gak sempat dong bahagia (itulah bedanya dengan memburu akhirat yg pasti dapat nanti pada waktunya). Makanya ayo kalaupun kerja keras, cobalah bahagia selama menjalaninya, dan tentunya nanti lebih bahagia saat sudah menikmati hasil akhirnya. Liat aja para siswa dan mahasiswa yang tidak bisa menikmati
proses belajar mengajar. Entah karena bidangnya yang tidak disukai,
atau suasana yang tidak menyenangkan, dan lebih banyak karena diri kita
sendiri yang tidak mengkondisikan suasana belajar yg asyik sejak awal.
Sampai2 hampir diadakan penelitian tentang efek bel pulang sekolah yang
akan diproduksi sebagai obat penghilang ngantuk hahaha. Kalau belajar tidak
menyenangkan kasian banget, makanya kalo ada adek kelas yg tanya
tentang pilihan sekolah atau jurusan, selalu saya jawab pilih yang kamu
benar2 sukai (dan juga disenangi Allah Subhanawata’ala juga tentunya), lupakan dulu tentang peluang kerja dan hal2 lain, karna
kalau kita melaksanakan segala sesuatu dengan senang dan penuh passion maka yakinlah sesuatu yg hebat pasti akan terjadi hehee.

Kadang2 saya suka jadi provokator ke teman2 untuk bertanya, apakah saat ini misalnya kita bekerja dan stress selama sebulan dan hanya bahagia ketika hari gajian atau weekend atau pulang kantor, kalau benar ayo berusaha bahagia dan nikmati daripada menyesal. Kalau tidak bisa coba pikirkan sekali lagi tentang pekerjaan itu, terlebih klo pekerjaan kita setelah ditimbang2 hampir tidak ada nilai2 dibaliknya selain mencari isi perut, dimana tidak ada nilai manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta yang paling utama agama.. Kenapa kita aneh, menyaman2kan sesuatu yg tidak nyaman, padahal pada prinsipnya malah kita sebaiknya jangan sampai terlalu lama masuk zona nyaman.

Sebagai penutup, mari do’a yuk ; ‘Ya Allah jadikanlah kami setiap saat bisa jadi lebih baik dan bahagia di dunia dan di akhirat nanti’.. Aminnn

Sekolah Alam; Belajar jadi Tarzan ?

Uncategorized February 17th, 2008

Hehehe mungkin ada yang berpikiran Sekolah Alam seperti judul di atas? Mungkin yang harus diluruskan deskripsi kita tentang Alam itu dulu. Hmm mungkin sebagai pengantar perlu baca bukunya Toto Chan ‘Gadis Cilik Di Jendela’. Buku ini adalah kisah nyata yang ditulis oleh Toto Chan (Tetsuya Kuroyanagi) tentang masa kecilnya sekolah di sekolah alam. Disitu diceritakan dengan alur yang sangat menarik (memangnya bair, kalo cerita gak jelas :p) bagaimana dia (Toto Chan) yang masih kelas 1 SD dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal.. Nakal disini karena dia selalu ingin tahu tentang segala sesuatu. Sampai akhirnya dia pindah sekolah di sebuah sekolah yang tidak seperti sekolah2 yang lain.. , hmm kalo ada yang pengen tahu coba aja cari bukunya, banyak kok malahan ini termasuk buku lama dari tahun baheula dan sudah dicetak ulang berapa kali.

Di Indonesia pun sudah beberapa Sekolah Alam yang didirikan, malahan pernah baca di internet ada sekolah alam yang dibangun sendiri patungan oleh beberapa orang2 tua yang ingin anaknya sekolah di sekolah alam, tapi di tempatnya belum ada. Dan dasyatnya mereka sampai mendatangkan kontainer bekas sebagai ruang kelas untuk menyaingi sekolah Toto Chan yang dari gerbong kereta *yang akhirnya hancur karna perang Dunia II dulu*.

Selain memanfaatkan dan berinteraksi langsung dengan alam untuk belajar mengajar, beberapa hal yang unik dari sekolah alam ;
a. Anak2 tidak wajib menggunakan seragam dan sepatu, malahan kalo bisa pakai baju yang tidak sayang kalo sampai kotor atau rusak :) b. Terdapat jam2 belajar bebas, dimana setiap anak dibebaskan belajar mandiri apa yang dia sukai, dengan di awasi oleh guru nya .. , tentunya gurunya harus pintar dan siap setiap saat, tiba2 ada murid A nanya biologi, murid B nanya masalah ruang angkasa dan murid C juga ngantri untuk curhat masalah ekonommi mikro (maksudnya duit jajannya kurang hehe).. kan harus siap jawab.
c. Porsi belajar dalam kelas diusahakan seimbang dengan bermain di alam, kunjungan ke tempat2 khusus, praktek, membaca di perpustakaan dll
d. Belajar menggunakan suatu objek secara langsung tanpa pengotak2an bidang ilmu, dan dari objek tersebut maka akan belajar berbagai masalah. Misal hari ini anak2 belajar praktek menanam pohon, disitu anak2 melihat pohon ini memiliki bagian2 apa saja (Biologi), terus jika ada 10 pohon tentunya jumlah resource untuk menanamnya adalah resource 1 pohon dikali 10 (Matematika + Project Management ‘caillah’), manfaat menanam pohon dan akibatnya jika merusak pohon (lingkungan), bergotong royong dengan teman2 (Team Work ‘caillah lagi’), dan selanjutnya setelah selesai harus dengan sabar memelihara pohon itu setiap hari untuk melatih mental sabar dan sadar akan proses.
e. Guru bukan Mahluk yang tahu segalanya dan tidak pernah salah, dan ilmu bisa dari mana saja, dari buku-buku (bukan hanya buku wajib :) ), internet, teman2
f. Prioritas yang ingin dibentuk ke murid secara berurutan adalah: Iman dan Takwa, mental dan karakter baru kemudian ilmu pengetahuan dan teknologi.
g. Minat anak2 didukung, diarahakan, dibantu dan dikembangkan.
h. Nilai diatas kertas bukan segalanya *akuuuurrrr*
i. dll

Cuman yang menjadi kendala kebanyakan dari sekolah alam yang ada ini rata2 biayanya lebih mahal dari sekolah umum, seperti sekolah ponakan teman saya di Bekasi yang punya sarana praktek untuk berkebun, beternak, perpustakaan yang lengkap dll. Apa betul sih konsep sekolah alam harus mahal? Padahal IMHO (In My Humble Opinion yg artinya Pendapat Sok Tau Saya hehehe) sekolah alam ini seharusnya murah, karena memanfaatkan yang ada di alam. Kita tidak perlu memaksakan kondisi alam sama seperti yang ada di sekolah Toto Chan dimana dikelilingi oleh sawah, sehingga salah satu gurunya adalah seorang petani asli, dll. Justru sebaliknya kita bisa menggunakan lingkungan nyata apa adanya bagi anak2. Alam tidak selalu identik dengan kondisi perkebunan dan lain sebagainya, cuman kalo memang ada, better I think *apa artinya Ir?* karena pasti akan membuat suasana lebih fresh dan menyenangkan.

Coba lihat apa yang disediakan lingkungan kita yang bisa digunakan sebagai sarana belajar anak2, tentunya jika ada yang bisa ditambahkan tanpa mengganggu dan memberatkan pihak murid/wali maka lebih baik lagi. Bisa juga dengan menyiasatinya, jika sekolah tidak punya cukup buku, coba cari donatur, atau pada hari tertentu berkunjung ke perpustakaan2 terbaik di kota atau sekolah lain. Jika tidak punya sarana praktikum coba lobi pabrik2 tahu dan tempe, kerajinan, dll di desa kita untuk dikunjungi, atau memberi kuliah tamu di SD kita, dan lain2. Untuk belajar agama bisa langsung meminta kepada ustadz/ustadzah yang mumpuni dan uang bukan alasan utamanya mengajar :). Dan masih banyakkk lagi..

Mungkin ada yang tertarik, silahkan cari tahu dan paling gampang langsung aja tanya2 ama Om Google, atau bisa langsung ke beberapa TKP berikut..
[1]http://www.sekolahalam.org/
[2]http://sekolahalambandung.com/
[3]http://sekolahalam.blogspot.com/
[4]dll

Teman untuk bermimpi

Uncategorized February 12th, 2008

Baru baca bukunya Guy Kawasaki ‘Merintis Perusahaan Multinasional dari Nol”, hmm bagus banget, simple tapi terarah. Makanya kepikiran untuk bahas beberapa tips disertai beberapa analisa asal dalam posting ini dan juga di post2 selanjutnya kalau tidak lupa. Bukunya sendiri emang lebih condong ke start up perusahaan IT, khususnya di Sillicon Valley (masih perbatasan Sinjai - Bone), tapi masih relevan kok untuk bidang bisnis lain.

Salah satu anjuran disitu adalah coba cari partner dari teman yang sevisi dan punya cita2 yang sama. Kita terlalu sering didongengkan tentang penemu dan raja tunggal dari usaha. Padahal rata2 mereka memiliki partner awal yang sama2 berjuang dari awal alias dari Nol. Kalau mau kita lihat raja2 perusahaan yang terkenal didirikan oleh sepasang anak muda yang bersemangat.

Mungkin semua kenal Bill Gates (dan sebaliknya Bill Gates gak kenal kalian hehehe), bagaimana ide brilian dan kelicikannya (hehehe) dalam membesarkan Microsoft. Tapi kita banyak yang gak tau kalau Pakde Bill ini mendirikan perusahaan KecilHalus (baca : Microsoft) bareng Paul Allen. Sedangkan Apple rajanya Interaksi Manusia Komputer  ‘hehehe’ itu di erami ama Steve Jobs dan Steve Wozniak.

Nah yg paling hangat adalah dua raksasa online saat ini Google dan Yahoo  yang sejak awal sudah terkenal dengan duet legendarisnya, dimana Google didirikan duo mahasiswa S3 Stanford Univ (duo anak muda Yahudi juga) Larry Page dan Sergey Brin. Sedangkan Yahoo oleh duo mahasiswa Stanford Univ juga, yaitu David Filo dan Jerry Yang yang berasal dari Taiwan.

Hmm.. memang sih sulit untuk mencari teman yang pas untuk usaha bareng, harus saling pengertian dan mau mengerti ego temannya. Lebih lanjut lagi  dikatakan bahwa paling ideal teman yang sudah sevisi tersebut, justru sebaiknya memiliki typikal dan kemampuan yang berbeda untuk saling cover. Soalnya ilmu dan competency untuk modal bersaing itu sangat luas dan tentunya sulit untuk bisa expert atau handling semua bidang, oleh karena itu harus ada pembagian managerial dan tugas di awal. Contoh nyatanya seperti pada awal Google, dimana Larry Page yang menemukan metode pencarian Page Rank lebih fokus ke teknis sedangkan Sergey Brin lebih mengurusi operasional.

Jadi ingat, ini pas sekali sama partner pengusaha adek kelasku dari Sorowako Irro dan Ivan yang bisnis dagang kecil2an di Jogja. Dimana sangat jelas sekali fungsinya, Ivan sebagai daya tarik untuk menarik pembeli sehingga mau membeli walaupun harus utang, sedangkan Irro yang memiliki background ‘abu2 metalik’ berfungsi untuk menakut2i orang yang belum bayar utang ….ahahahha (IRRO’ pisss, yang penting hatinya le’… )

Bair Hidup dengan Upah Minimum :)

Uncategorized February 8th, 2008

Kemarin sempat survey2 Upah Minimum Provinsi (UMP) 2008 di Indonesia yang baru. Berhubung usaha saya baru merangkak, bingung juga mo gaji diri sendiri berapa? jadi kita tetapkan kalo kita tiap bulan dapat sesuai UMP. Berhubung saya di Palembang jadi ya, dapat UMP Sumatra Selatan :).

Bagi yang juga mo tau boleh diunduh (fyi, unduh = bahasa Indonesia resmi-nya download..) disini daftar nya.

Dulu sempat cerita2 sama teman yang ada di Luar Negeri, kalo mo bikin usaha enakan di Indonesia, soalnya biaya hidup rendah, jadi bisa dapat tenaga kerja ‘pintar’ yang lebih murah. Hmm.. jadi kepikiran juga klo bisa kerja untuk luar negeri dan tinggal di Indonesia, terutama Jogja ehhehe., bayangin gaji Dollar tapi makannya di angkringan dengan porsi nasi kucing+tempe2+air putih :).

Teman saya juga ada yang pernah kerja jadi freelance untuk Singapura, sambil kuliah dia jadi programmer untuk perusahaan Singapura, perbulannya digaji sekitar US$300, bayangin lumayan sekali kan hehhe. Ini baru namanya simbiosis mutualisme, uang segitu mungkin kecil banget kalo di Singapura, tapi kalo di Jogja, wuihhh udah bisa zakat dan sedekah banyak :).

Sebenarnya gak harus luar negeri, di Indonesia aja bisa, misal kita dapat kerja di daerah dengan standar UMP tinggi, tetapi belanja di UMP yang rendah. Tapi gimana caranya??? hehhee banyak kok yang gitu, contoh paling nyata yaitu kerja Online atau remote via internet. Hmm contoh lainnya adalah saya dan teman2ku anak Sorowako yang orang tuanya kerja di sebuah pertambangan yang berada di tengah Pegunungan Verbeek, dan kuliah di Jogja.. cukup merasakan perbedaan standar hidup dari uang kiriman.

Tapi apa betul sih pertimbangan standar gaji di Indonesia itu sudah pas dengan gaji di Indonesia. Apa betul sih mitos yang mengatakan kalo kerja di luar negeri itu sama aja dengan di Indonesia, soalnya disana kan biaya hidup tinggi, jadi sama aja dengan gaji kecil di Indonesia tapi harga murah.. Apa betul??? Secara kebetulan saya nemu diskusi di salah satu forum, tentang hitung2an sederhana UMP di Indonesia(Jakarta) dan Jepang(Tokyo). Berikut cuplikannya;

——————————-
1. Upan minimum tokyo 800-900 yen /jam-nya
2. Biaya Listrik? jarang ngecek kwh, biasanya sebulan 3000-5000 yen.
3. Untuk telephon Hp & Biasa variatif, tergantung Operator dan ambil paket2 nya, averagenya HP 35yen/ 30 detik, Biasa 8-10 yen / 30 detik.
4. Untuk makan Kelas warteg : misal Soba/udong, Gyudon(meat bowl) bisa mulai dari 350yen.
5. Jaringan Internet 24 jam full berlangganan Incl TV cable range 5000-7000 yen (tergantung paket dari providernya).

Artinya, kalo kita lihat biaya hidup orang Jepang yg belum nikah di Tokyo,
1. Upah minimum/bulan = 800Yen x 8jam/hari x 22 hari/bulan = 140,800 Yen.
2. Listrik = 5000 Yen ,sekitar 3.5% dari upah minimum.
3. Handphone, bicara 10 menit/hari = 300 menit/bulan, biayanya 21,000 Yen, sekitar 15% dari upah.
4. Makan, 3 x sehari = 90 x sebulan, biayanya 90×400Yen = 36,000 Yen, sekitar 25% dari upah minimum.
5. Internet, 7,000 Yen per bulan, sekitar 5% dari upah minimum.
6. Kos2an 50,000 Yen/bulan (bener gak yah?), sekitar 35% dari upah.
7. Sisa upah setelah biaya 1-6, sekitar 21,800 Yen, buat ongkos, main, dll.

Bandingkan dengan biaya hidup orang Indonesia yg belum nikah di Jakarta,
1. Upah minimum Jakarta, Rp 905,000
2. Listrik, Rp 50,000, sekitar 5,5% dari upah
3. Handphone, bicara 10 menit/hari, biaya sekitar 10×30xRp1,300 = Rp390,000/bulan, sekitar 43% dari upah.
4. Makan, 3 x sehari, sekitar 3×30xRp 5,000 = Rp 450,000/bulan, sekitar 50% dari upah.
5. Internet, DSL 500MB Rp 150,000/bulan, sekitar 16,5% dari upah.
6. Kontrakan, Rp 200,000/bulan, sekitar 22% dari upah.
7. Sisa upah, nombok Rp 335,000.

Kesimpulan :
1. Kalau selama ini orang2 bilang di Jepang mahal, kalo lihat ilustrasi diatas, kayaknya nggak juga, yah.
Lihat aja prosentase listrik, handphone, makan dan internet terhadap upah.
2. Upah minimum di Jepang masih cukup buat hidup dan menambah wawasan.
3. Upah minimum di Indonesia terlalu minim, memaksa orang Indonesia untuk ‘berhemat’ dengan cara:

  • Hemat listrik dengan ngakali meteran, jadi cuma bayar abonemen aja.
  • HP cukup sms-an, kalo buat nelpon pribadi nyolong telpon kantor.
  • Makan cukup 2 x sehari, lebihnya nyari temen yg ulang tahun.
  • Internet, boro-boro ….(pantes gak pinter2)
  • Kontrakan, hmmm…joinan sama temen aja.
  • Masih kurang juga? hmmm…korupsi kecil2an deh.

——————

Di Indonesia emang serba salah juga sih, baik pengusaha maupun pegawai, soalnya iklim industri yang masih belum sehat dan tidak stabil. Jujur saja, untuk saat merangkak ini, kalau mencari tim ‘pejuang’ untuk guyub, hanya berani ngasih tidak jauh dari UMP :), tapi kami janjikan kalo guyub besar, maka dia juga akan besar. Makanya yang mau gabung dengan kita hanya orang yang percaya dengan kita dan punya mimpi yang sama dengan kita :) (PROMOSI BANGET hahahaha, tapi serius :) ).

Di Luar Negeri-pun perusahaan kecil yang baru mulai rata2 begitu, seperti  Google misalnya saat pertama kali mulai di kantor pertama dengan menyewa basement rumah orang, timnya hanya mendapat gaji kecil untuk standar perusahaan di Amerika, tapi mereka mendapat jatah saham, jadi saat Google tiba2 besar, orang2 tersebut selain punya jabatan tinggi juga kaya mendadak karna sahamnya yang nilainya naik gila2an.

Btw hampir lupa guyub punya kelebihan dari Google :), yaitu setiap anggota tim dari awal klo mo gabung sudah boleh nego jabatan tinggi, tapi gajinya teteeeuppppp ….hehehehe (kidding).

Kisah kantor Palembang ‘dedicated to Chulu’

Uncategorized February 3rd, 2008

Saat ini sudah mulai aktif ngeblog lagi nih Bairyan.. hhehee

Iya soalnya emang kerjaannya hampir selalu di depan internet, jadi sekalian kalo ada ide langsung ditulis. Oh iya, bagi yang belum tau (yang sudah tau juga gak papa kok, gak usah sedih gitu dong) saya sekarang sudah di Palembang - Sumatera Selatan. Tepatnya sekarang tinggal di Pondok Indah Mertua. Yups keputusan untuk pindah ini sudah dirancang jauh2 hari sebelum saya dan istri akan menikah, tapi sudah sepakat akan rutin ke Sulawesi minimal salah satu dari dua hari raya Islam (mudah2an selalu sehat wal afiat dan rejekinya lancar terus biar bisa silaturahmi ke kluarga dan teman2.. Aminnnn). Ada tarik ulur kepentingan, menimbang untung rugi, analisa mendalam, studi lapangan dan literatur, 2 kali ujian dan 4 kali revisi  haaaalllah.. emang apaan :), intinya kita akan default di Palembang dan mengejar mimpi kita untuk lebih bermanfaat bagi semua dunia dan akhirat.

Di Palembang ini kami (saya, istri (Nia) dan seorang teman kuliah) akan mencoba membangun usaha yang sebenarnya sudah kami rintis beberapa bulan sebelumnya di Jakarta. Hmmm… doain ya soalnya baru merangkak nih. Mimpi kami sangat besar dengan tujuan yang cukup idealis tapi tetap saja dalam bingkai realistis :).

Saya rasa judulnya bukan usaha deh (pliss deh siapa yang nulis.. kok malah nanya?), jadi kita balik ke topik awal. Salah satu yang ingin saya cerita adalah kantor kami yang pertama ini (di Jakarta kantonya virtual aja hehehe), dalam pembuatannya dibantu sama teman saya Chulu. Chulu’ alias Zulfikar ini teman saya dari TK, SD, SMP dan SMA di SOROWAKO CITY, hanya saja dia kuliah di Bandung dan ngambil jurusan desain interior. Cocok sekavo (bahasa Banda’ yang artinya ’sekali banget’) ama dia yang dari dulu punya jiwa seni, cuman mungkin kuliahnya sedikit terhambat karena sibuk ama band dan rutin ditolak cewek hahhaaah.. (becandaji Chulu’).

Kali ini Chulu’ sedikit stress, sudah diterbangkan dari Bandung ke Palembang dengan ikhlas tanpa minta bayaran karna mo bantu teman yang mo buka usaha dengan modal uang NOL (tapi + trilyun semangat + ton2 integritas + sekunci2 dunia ‘apaan nih’ doa dan restu dari orang2 yang kami cintai), dia juga harus dibikin stress dengan budget yang sangat terbatas sekali.  Dan dengan dibantu oleh tim tukang bedah kantor (Papa Nia ’sebagai penasehat’, Mas Margono, Bang Taufik, Bang Parman dan Bang Anwar) hasilnya bisa menyulap paviliun menjadi tempat yang bisa saya banggakan untuk bertemu klien, wawancara calon pgawai, bertemu kolega (caiiilllahhh), tidur siang karna ada ACnya dan lain2.

Rangkaian prosesnya dikerjakan rame2 dibawah komando sang konsultan (cuiiit cuiiit2000X sampai pegel), mulai dari belanja alat dan bahan yang pulang pergi Pasar 16 Ilir 2X sehari, pengecetan rame2 menggunakan standar gambar dari Chuls, perancangan logo baru, pembuatan logo baru guyub dari fiber, reparasi furnitur2 bekas untuk kantor, pencurian tanaman hias mertua untuk hiasan :), dll. Kalau ada yang pengen liat hasilnya sudah saya taruh di flickr, maunya pasang foto2 pembandingnya sebelum dan sesudah supaya betul2 terlihat perubahannya, tapi belum sempat (baca = malas :) ).

Ok last but not least, bagi yang tertarik untuk menggunakan konsultan interior silahkan kontak Chulu, dijamin harganya murah meriah mencret tetapi jelas profesional dan dijamin tidak mengecewakan (Chulu’ ingatko persenan le’ hehehee). Oh iya sampai lupa, sama moka juga terima kasih sama Pedly yang mengijinkan saya pinjam Chulu’nya sebentar ke Palembang :).