Kemarin sempat survey2 Upah Minimum Provinsi (UMP) 2008 di Indonesia yang baru. Berhubung usaha saya baru merangkak, bingung juga mo gaji diri sendiri berapa? jadi kita tetapkan kalo kita tiap bulan dapat sesuai UMP. Berhubung saya di Palembang jadi ya, dapat UMP Sumatra Selatan :).

Bagi yang juga mo tau boleh diunduh (fyi, unduh = bahasa Indonesia resmi-nya download..) disini daftar nya.

Dulu sempat cerita2 sama teman yang ada di Luar Negeri, kalo mo bikin usaha enakan di Indonesia, soalnya biaya hidup rendah, jadi bisa dapat tenaga kerja ‘pintar’ yang lebih murah. Hmm.. jadi kepikiran juga klo bisa kerja untuk luar negeri dan tinggal di Indonesia, terutama Jogja ehhehe., bayangin gaji Dollar tapi makannya di angkringan dengan porsi nasi kucing+tempe2+air putih :).

Teman saya juga ada yang pernah kerja jadi freelance untuk Singapura, sambil kuliah dia jadi programmer untuk perusahaan Singapura, perbulannya digaji sekitar US$300, bayangin lumayan sekali kan hehhe. Ini baru namanya simbiosis mutualisme, uang segitu mungkin kecil banget kalo di Singapura, tapi kalo di Jogja, wuihhh udah bisa zakat dan sedekah banyak :).

Sebenarnya gak harus luar negeri, di Indonesia aja bisa, misal kita dapat kerja di daerah dengan standar UMP tinggi, tetapi belanja di UMP yang rendah. Tapi gimana caranya??? hehhee banyak kok yang gitu, contoh paling nyata yaitu kerja Online atau remote via internet. Hmm contoh lainnya adalah saya dan teman2ku anak Sorowako yang orang tuanya kerja di sebuah pertambangan yang berada di tengah Pegunungan Verbeek, dan kuliah di Jogja.. cukup merasakan perbedaan standar hidup dari uang kiriman.

Tapi apa betul sih pertimbangan standar gaji di Indonesia itu sudah pas dengan gaji di Indonesia. Apa betul sih mitos yang mengatakan kalo kerja di luar negeri itu sama aja dengan di Indonesia, soalnya disana kan biaya hidup tinggi, jadi sama aja dengan gaji kecil di Indonesia tapi harga murah.. Apa betul??? Secara kebetulan saya nemu diskusi di salah satu forum, tentang hitung2an sederhana UMP di Indonesia(Jakarta) dan Jepang(Tokyo). Berikut cuplikannya;

——————————-
1. Upan minimum tokyo 800-900 yen /jam-nya
2. Biaya Listrik? jarang ngecek kwh, biasanya sebulan 3000-5000 yen.
3. Untuk telephon Hp & Biasa variatif, tergantung Operator dan ambil paket2 nya, averagenya HP 35yen/ 30 detik, Biasa 8-10 yen / 30 detik.
4. Untuk makan Kelas warteg : misal Soba/udong, Gyudon(meat bowl) bisa mulai dari 350yen.
5. Jaringan Internet 24 jam full berlangganan Incl TV cable range 5000-7000 yen (tergantung paket dari providernya).

Artinya, kalo kita lihat biaya hidup orang Jepang yg belum nikah di Tokyo,
1. Upah minimum/bulan = 800Yen x 8jam/hari x 22 hari/bulan = 140,800 Yen.
2. Listrik = 5000 Yen ,sekitar 3.5% dari upah minimum.
3. Handphone, bicara 10 menit/hari = 300 menit/bulan, biayanya 21,000 Yen, sekitar 15% dari upah.
4. Makan, 3 x sehari = 90 x sebulan, biayanya 90×400Yen = 36,000 Yen, sekitar 25% dari upah minimum.
5. Internet, 7,000 Yen per bulan, sekitar 5% dari upah minimum.
6. Kos2an 50,000 Yen/bulan (bener gak yah?), sekitar 35% dari upah.
7. Sisa upah setelah biaya 1-6, sekitar 21,800 Yen, buat ongkos, main, dll.

Bandingkan dengan biaya hidup orang Indonesia yg belum nikah di Jakarta,
1. Upah minimum Jakarta, Rp 905,000
2. Listrik, Rp 50,000, sekitar 5,5% dari upah
3. Handphone, bicara 10 menit/hari, biaya sekitar 10×30xRp1,300 = Rp390,000/bulan, sekitar 43% dari upah.
4. Makan, 3 x sehari, sekitar 3×30xRp 5,000 = Rp 450,000/bulan, sekitar 50% dari upah.
5. Internet, DSL 500MB Rp 150,000/bulan, sekitar 16,5% dari upah.
6. Kontrakan, Rp 200,000/bulan, sekitar 22% dari upah.
7. Sisa upah, nombok Rp 335,000.

Kesimpulan :
1. Kalau selama ini orang2 bilang di Jepang mahal, kalo lihat ilustrasi diatas, kayaknya nggak juga, yah.
Lihat aja prosentase listrik, handphone, makan dan internet terhadap upah.
2. Upah minimum di Jepang masih cukup buat hidup dan menambah wawasan.
3. Upah minimum di Indonesia terlalu minim, memaksa orang Indonesia untuk ‘berhemat’ dengan cara:

  • Hemat listrik dengan ngakali meteran, jadi cuma bayar abonemen aja.
  • HP cukup sms-an, kalo buat nelpon pribadi nyolong telpon kantor.
  • Makan cukup 2 x sehari, lebihnya nyari temen yg ulang tahun.
  • Internet, boro-boro ….(pantes gak pinter2)
  • Kontrakan, hmmm…joinan sama temen aja.
  • Masih kurang juga? hmmm…korupsi kecil2an deh.

——————

Di Indonesia emang serba salah juga sih, baik pengusaha maupun pegawai, soalnya iklim industri yang masih belum sehat dan tidak stabil. Jujur saja, untuk saat merangkak ini, kalau mencari tim ‘pejuang’ untuk guyub, hanya berani ngasih tidak jauh dari UMP :), tapi kami janjikan kalo guyub besar, maka dia juga akan besar. Makanya yang mau gabung dengan kita hanya orang yang percaya dengan kita dan punya mimpi yang sama dengan kita :) (PROMOSI BANGET hahahaha, tapi serius :) ).

Di Luar Negeri-pun perusahaan kecil yang baru mulai rata2 begitu, sepertiĀ  Google misalnya saat pertama kali mulai di kantor pertama dengan menyewa basement rumah orang, timnya hanya mendapat gaji kecil untuk standar perusahaan di Amerika, tapi mereka mendapat jatah saham, jadi saat Google tiba2 besar, orang2 tersebut selain punya jabatan tinggi juga kaya mendadak karna sahamnya yang nilainya naik gila2an.

Btw hampir lupa guyub punya kelebihan dari Google :), yaitu setiap anggota tim dari awal klo mo gabung sudah boleh nego jabatan tinggi, tapi gajinya teteeeuppppp ….hehehehe (kidding).