Milih Gelar atau Bukti?

Uncategorized March 27th, 2009

Tentang gelar Indonesia termasuk yang paling norak, aneh bin ajaib :).

Mulai dari yang ngambek tidak mau datang mantenan kalau gelarnya lupa atau salah tulis pada undangan. Sampai penempatan gelar yang tidak pada tempatnya, bahkan sampai mengganti bin merubah nama asli kita dari akte kelahiran pada Kartu Tanda Penduduk, ckck.. bisa dibayangkan ribetnya penerapan identitas tunggal di Indonesia, dimana databasenya berubah-rubah, misal nama: “Muhammad Subair”, bisa berubah-rubah menjadi “H. Muhammad Subair”, “Prof. Dr Muhammad Subair,  S.Kom, MSc, MBA”, dan lain sebagainya.

Khusus gelar Haji juga sangat dasyat, terutama beberapa daerah, dimana panggilan Haji adalah kehormatan. Masalah menghormati orang yang sudah naik haji tidak salah, cuman ya itu gak perlu segitunya kale’, biar natural aja dia jadi lebih terhormat dengan perilaku, akhlak dan ibadahnya yang meningkat sepulang dari ibadah haji. Tidak perlu diagung-agungkan nama hajinya, dan tidak mau balik lagi kalau hanya dipanggil dengan namanya seperti dulu, harus dengan “Bu atau Pak Haji” hehe. Sekalian aja, tambahin Pak Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji biar lengkap :).

Pas musim kampanya sekarang juga, lihat berbagai macam orang jadi Calon Legislatif dan pasang poster, spanduk, baliho di sepanjang jalan. Mulai dari yang aneh sampai yang sangat aneh sekali banget ada:). Yang menarik adalah saya baru sadar banyak sekali orang yang bergelar di Indonesia, bahkan sampai Profesor, tapi hmm.. saya jadi bertanya-tanya kok belum pernah dapat karya-karya nyatanya ya, hmm .. Bair aja yang kurang wawasan mungkin.

Tapi ada juga yang sebaliknya, di poster kampanyenya saya justru tidak lihat gelar yang sering dipasang kalau berita tentang dia muncul di koran-koran. Kemungkinan paling besar ada 2 sih; No. 1. Dia gak mau pamer gelar tidak pada tempatnya, atau No. 2. Dia gak berani gelarnya itu diperiksa KPU hehe..

Jadi ingat buku-buku semasa kuliah, buku-buku dari luar rata-rata penulisnya bergelar, akan tetapi hampir tidak pernah di sampul buku tertera nama pengarang dengan gelarnya. Kita baru tahu gelarnya begitu kita membaca otobiografi di lembar akhir.

Hmm.. jangan pusing dulu, ini kita baru bahas yang emang gelarnya dapat dengan betul, belum bahas yang dapat nemu :)….

Belajar untuk Kalah dan Gagal

Uncategorized March 3rd, 2009

Baca koran pagi ini, tentang analisis psikologi mahasiswa Indonesia di Singapura yang diduga melakukan penikaman dan bunuh diri. Disitu diceritakan kalau mahasiswa Indonesia yang terkenal berkelakuan baik dan berprestasi ini mengalami tekanan psikis dan mental karena mendapat hambatan di akademisnya, sesuatu yang selama ini mungkin tidak pernah ia alami.

Mungkin bagi kita *yang sering gagal :)* itu sedikit aneh karena itu hal sepele, tetapi bagi beberapa orang termasuk mahasiswa ini mungkin tidak, apalagi kalau memang keluarga dan lingkungan bukannya membantu malah secara sadar atau tidak sadar memberi tekanan tambahan, seperti menaruh harapan yang sangat tinggi.

Terlepas benar atau tidaknya dalam kasus yang dibicarakan ini, akan tetapi Bair sangat memahami tentang pentingnya menerima kekalahan dan kegagalan.

Waktu kecil dulu, jujur saja sampai kelas 4 SD, jadi rangking 3 saja bisa bikin Bair mimpi-mimpi, padahal orang tua Bair tidak pernah memberi tekanan atau pengaharapan apa-apa ke Bair untuk selalu rangking, beneran rangking setidaknya bukan hal yang pertama dilihat oleh Mama’ dan Bapak, yang pertama adalah kelakuan dan kerapihan yang sering sekali C, serta catatan tambahan dari wali kelas hehehee.

Pengalaman pertama kalah dan tersingkir dari pertandingan juga bikin gregetan 3 hari 3 malam, walaupun dari awal Bair tahu memang bakalan kalah :). Akan tetapi sedikit demi sedikit perasaan itu hilang seiring dengan hobi Bair bertanding apa saja, mulai dari lomba tujuh belasan, bidang studi, tenis meja, basket sampai marathon di kota Bair. Dan sebagaimana telah diduga, lebih banyak gagalnya :), kecuali untuk lomba bidang studi dan makan krupuk yang jadi spesialisasi Bair.

Sekarang Bair baru tahu pengalaman kalah dan gagal itu sangat berharga. Hmm baru mengerti juga, kenapa Purdi Chandra pendiri Grup Primagama mengistirahatkan anaknya yang selalu rangking 1 dari sekolah untuk sementara, karena dianggap tidak baik untuk perkembangannya *cmiiw*.

Jadi untuk teman-teman yang sering kalah dan gagal (terutama yang sering mengalami penolakan heheh) berbahagialah… :)