Proses Itu Indah Jendral, eh salah Kawan

Uncategorized February 22nd, 2008

Pernah tidak melakukan sesuatu dengan sebaik2nya dan akhirnya gagal tapi tetap senang, atau bahkan melakukan sesuatu dengan senang tanpa terlalu peduli hasil akhirnya? Kalau pernah selamat anda termasuk orang yang berbahagia hehhe. Sebab sebagian besar waktu yang akan kita temui adalah proses, sedangkan menikmati hasil akhir itu kadang waktunya jauh lebih singkat dari proses mendapatkannya. Sebagai pengantar saya sendiri punya pengalaman pribadi yang walaupun sepele tapi cukup menginpirasi saya.

Kisah itu adalah perjuangan saat kelas 3 dimana kelas ku (III IPA 1 suit2 hehhe, yang ketua kelasnya paling keren itu lho :) ) berencana untuk membeli sesuatu untuk kenang2an, yang waktu itu klo gak salah kita berencana untuk membeli jaket seragam untuk kelas. Keputusan kenang2an jaket disini mengalahkan usul Mail, Umar dan Palelo yang ingin memesan sapu tangan seragam untuk kelas hehehe. Pada saat dicetuskan ide untuk membeli jaket itu, kita semua sepakat bagaimana kalo kita coba tanpa harus mengeluarkan uang khusus, bagaimana kalo kita berusaha memperoleh dari kerja bareng2, ntar kalau kurang baru kita tambah pakai uang minta dari Ortu.

Kesempatan untuk ngumpulin uang bareng2 muncul, saat kita mendapat modal awal untuk kelas dari hadiah juara II lomba lampion di Sorowako. Tentang lomba ini jujur aja kelasku diuntungkan oleh hujan yang sempat terjadi di tengah lomba, sehingga juri agak kurang objektif hehehe. Jadi ingat waktu itu ada anak SD yang tema lampionnya ikan, karna tidak smpat dilindungi waktu hujan sesaat tapi cukup deras itu alhasil menjadi lampion tulang ikan hehhee.

Sedikit pengakuan dosa berkaitan dengan lomba lampion, dimana saat arak2an membawa lampion, hampir seisi kelas berpartisipasi, sehingga mubazir kalo semua ikut iring2an lampion aja. Akhirnya yg gak ikut bawa lampion diberdayakan untuk menjalankan taktik jitu yang licik :p. Garis besarnya, sebagian dari kita akan ikut jalan tapi dipinggir jalan dan sesekali bergabung bersama penonton yang ada di belakang juri yang tersebar sepanjang rute. Maka setiap lampion kelas kami lewat maka, tim yang berada di belakang juri akan tepuk tangan dan memuji habis2an lampion kelas kami, sehingga penonton yang latah akan ikut tepuk tangan dan memuji hahahaha.

Dengan modal dari lampion tersebut kami mulai mengadakan bazar yang waktu itu saingan dengan kelas tetangga. Tau sendiri kalo kelas 3 yang bikin bazar maka yang akan menderita adalah kelas 1 dan 2. Mereka harus waspada dari bujuk rayu kakak kelas, dimana suasana sekolah menjadi tidak aman dan mencekam, paling aman adalah untuk tidak sering2 keluar dari kelas, setiap mau lewat lorong harus memastikan tidak ada kakak kelas yang jualan kupon bazar hahaha. Oh ya bazar ini cukup gede untungnya apalagi ada beberapa orang tua yang ngasih modal bahan dan gak mau diganti (padahal kita juga memang berharap gitu dari awal heheh).

Kita juga sesekali jualan di even2 sekolah, dengan mengambil barang dagangan tanpa bayar dari toko Rasdi *Apa kabar Bu’?*, dimana perjanjiannya yg laku aja yang dibayar, sedangkan yang tidak laku dikembalikan :) (hebat kan taktik dagangnya, makanya klo mo buat usaha modal bukan segalanya, masih ada jalan lain klo emang benar niat). Salah satunya yg saya paling ingat adalah saat ada acara berkemah pembuka khusus untuk anak kelas 1 di Bumper, disitu kita juga ikut bikin tenda untuk stand jualan ck ck ck (Pren2 masih ingat tragedi kayu ubi *yg seharusnya ubi kayu* dan ada yang pulang ngambek di tengah malam ?? hehhe).

Ditambah lagi wali kelas Bu Jen *halo Ibu Guru ku?* yang kompak untuk nyariin tender2 pesanan kue2 dan minuman di acara guru2. Alhasil akhirnya uang kas kita boleh dibilang ‘cukup’ untuk memesan lengan kiri jaket untuk seluruh kelas. Akan tetapi entah bagaimana dan yg pasti memang belum rejeki uang tersebut hilang dan berimbas anak2 jadi malas pesan jaket, dan tentang kejadian hilangnya uang tersebut tidak akan diceritakan disini karna saya juga gak terlalu paham ceritanya. Tapi jujur saya pribadi dan beberapa teman cowok gak terlalu kecewa (walopun sering diledekin kelas sebelah yang jadi beli jaket huhuhu), karna saat berjuang mencari uang itu lah sumber kebahagiaanya, bahkan tanpa memperoleh hasil prosesnya tadi (walopun mungkin lebih senang kalo dapat uangnya hehee). Yang saya ingat ketika bekerja disitu, saya dan teman2 tidak merasa terpaksa untuk melakukan semua tugas kerja untuk kelas, malahan merasa dapat aktivitas yang menyenangkan dilakukan bersama2 teman2 kelas.

Pengalaman ini cukup menjadi pelajaran bagi saya, makanya sejak saat itu saya bertekad dalam segala sesuatu ingin melakukan dengan senang, jika tidak senang akang diusahakan dan dirubah biar senang, atau ujung2nya take it or leave it kerjaan itu.

Coba bayangkan kalo apa yang kita buru hanya hasil saja, tanpa memperdulikan proses. Misalnya kita ingin jadi sarjana, selama memburu sarjana tersebut kita tidak melakukannya dengan senang, minimal 4 tahun kita sengsara, dan kemudian hanya senang ketika jadi sarjana yang hanya sekitar 1-2 bulan, karna setelah itu kita harus memasang target lain lagi seperti mencari kerja dan karena itu harus menunda kebahagiaan kita selama proses memperoleh target kita itu, dan begitu seterusnya sampai peot.. hehe.

Contoh lain adalah orang2 skarang yang cenderung bekerja habis2an walaupun banyak hal yang harus dikorbankan termasuk kebahagiaan saat ini dan amit2 kalo kebahagiaan di akhirat juga dikorbankan (Na’uzubillahi min dzalik), menanti saat bisnis sukses dan tinggal mengalir atau saat pensiun bisa menikmati hasil tabungan dan ivestasinya, gimana kalo 1 hari sebelum pensiun meninggal, gak sempat dong bahagia (itulah bedanya dengan memburu akhirat yg pasti dapat nanti pada waktunya). Makanya ayo kalaupun kerja keras, cobalah bahagia selama menjalaninya, dan tentunya nanti lebih bahagia saat sudah menikmati hasil akhirnya. Liat aja para siswa dan mahasiswa yang tidak bisa menikmati
proses belajar mengajar. Entah karena bidangnya yang tidak disukai,
atau suasana yang tidak menyenangkan, dan lebih banyak karena diri kita
sendiri yang tidak mengkondisikan suasana belajar yg asyik sejak awal.
Sampai2 hampir diadakan penelitian tentang efek bel pulang sekolah yang
akan diproduksi sebagai obat penghilang ngantuk hahaha. Kalau belajar tidak
menyenangkan kasian banget, makanya kalo ada adek kelas yg tanya
tentang pilihan sekolah atau jurusan, selalu saya jawab pilih yang kamu
benar2 sukai (dan juga disenangi Allah Subhanawata’ala juga tentunya), lupakan dulu tentang peluang kerja dan hal2 lain, karna
kalau kita melaksanakan segala sesuatu dengan senang dan penuh passion maka yakinlah sesuatu yg hebat pasti akan terjadi hehee.

Kadang2 saya suka jadi provokator ke teman2 untuk bertanya, apakah saat ini misalnya kita bekerja dan stress selama sebulan dan hanya bahagia ketika hari gajian atau weekend atau pulang kantor, kalau benar ayo berusaha bahagia dan nikmati daripada menyesal. Kalau tidak bisa coba pikirkan sekali lagi tentang pekerjaan itu, terlebih klo pekerjaan kita setelah ditimbang2 hampir tidak ada nilai2 dibaliknya selain mencari isi perut, dimana tidak ada nilai manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta yang paling utama agama.. Kenapa kita aneh, menyaman2kan sesuatu yg tidak nyaman, padahal pada prinsipnya malah kita sebaiknya jangan sampai terlalu lama masuk zona nyaman.

Sebagai penutup, mari do’a yuk ; ‘Ya Allah jadikanlah kami setiap saat bisa jadi lebih baik dan bahagia di dunia dan di akhirat nanti’.. Aminnn