Tentukan arah baru pikirkan kecepatan

Uncategorized October 23rd, 2008

Selama ini sangat sedikit informasi atau bimbingan disediakan untuk siswa-siswi menentukan arah, minat, cita-cita atau target ke masa datang. Padahal ini adalah hal yang sangat menentukan keberhasilan di masa datang, bahkan bisa dikatakan lebih penting daripada pemberian ilmu pengetahuan, keterampilan dan lain-lain yang merupakan bekal, bahan bakar, atau kendaraan untuk menuju tujuan tersebut.

Analoginya sangat sederhana, jika hidup ini adalah perjalanan, saat ini banyak sekali dari kita yang tidak tahu arah, asal gas saja, dan asal jalan saja. Kita tidak pernah tahu sebenarnya tujuan kita akan kemana, yang kita lakukan adalah asal jalan saja. Bisa jadi memang jarak yang telah kita tempuh sangat jauh tapi bukan tidak mungkin justru menjauhi tujuan kita.

Jika kita tidak tahu tujuan kita dari Makassar adalah Jakarta, kita langsung buru-buru beli tiket pesawat ke Amerika, setelah itu ketika diatas pesawat baru tahu kalau kita akan ke Jakarta, tentu kita harus balik, itupun kalau masih punya dana untuk balik. Alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita mencari tahu tujuan kita, bahkan bisa dikatakan jauh lebih baik kita menunggu sampai ada kepastian tujuan.

Mungkin kita yang telah bekerja saat ini, sudah mulai merasakan, betapa banyak bahan bakar yang dulu kita keluarkan percuma. Betapa banyak materi dan pelajaran yang telah kita telan tanpa tahu apa tujuan, selain untuk memenuhi tuntutan sekolah. Memang sih tidak ada ilmu yang sia-sia, tapi bukankah akan lebih baik jika dulu kita belajar apa yang kita butuhkan untuk tujuan kita nanti, kalaupun ada bidang yang lain di luar target jangka panjang, setidaknya mempelajari itu adalah pilihan kita, bukan cuman keharusan bahkan keterpaksaan.

Jadi coba kita sekarang kita tentukan arah yang benar, baru silahkan atur gas sesuai keinginan dan kemampuan kendaraan kita.

Proses Itu Indah Jendral, eh salah Kawan

Uncategorized February 22nd, 2008

Pernah tidak melakukan sesuatu dengan sebaik2nya dan akhirnya gagal tapi tetap senang, atau bahkan melakukan sesuatu dengan senang tanpa terlalu peduli hasil akhirnya? Kalau pernah selamat anda termasuk orang yang berbahagia hehhe. Sebab sebagian besar waktu yang akan kita temui adalah proses, sedangkan menikmati hasil akhir itu kadang waktunya jauh lebih singkat dari proses mendapatkannya. Sebagai pengantar saya sendiri punya pengalaman pribadi yang walaupun sepele tapi cukup menginpirasi saya.

Kisah itu adalah perjuangan saat kelas 3 dimana kelas ku (III IPA 1 suit2 hehhe, yang ketua kelasnya paling keren itu lho :) ) berencana untuk membeli sesuatu untuk kenang2an, yang waktu itu klo gak salah kita berencana untuk membeli jaket seragam untuk kelas. Keputusan kenang2an jaket disini mengalahkan usul Mail, Umar dan Palelo yang ingin memesan sapu tangan seragam untuk kelas hehehe. Pada saat dicetuskan ide untuk membeli jaket itu, kita semua sepakat bagaimana kalo kita coba tanpa harus mengeluarkan uang khusus, bagaimana kalo kita berusaha memperoleh dari kerja bareng2, ntar kalau kurang baru kita tambah pakai uang minta dari Ortu.

Kesempatan untuk ngumpulin uang bareng2 muncul, saat kita mendapat modal awal untuk kelas dari hadiah juara II lomba lampion di Sorowako. Tentang lomba ini jujur aja kelasku diuntungkan oleh hujan yang sempat terjadi di tengah lomba, sehingga juri agak kurang objektif hehehe. Jadi ingat waktu itu ada anak SD yang tema lampionnya ikan, karna tidak smpat dilindungi waktu hujan sesaat tapi cukup deras itu alhasil menjadi lampion tulang ikan hehhee.

Sedikit pengakuan dosa berkaitan dengan lomba lampion, dimana saat arak2an membawa lampion, hampir seisi kelas berpartisipasi, sehingga mubazir kalo semua ikut iring2an lampion aja. Akhirnya yg gak ikut bawa lampion diberdayakan untuk menjalankan taktik jitu yang licik :p. Garis besarnya, sebagian dari kita akan ikut jalan tapi dipinggir jalan dan sesekali bergabung bersama penonton yang ada di belakang juri yang tersebar sepanjang rute. Maka setiap lampion kelas kami lewat maka, tim yang berada di belakang juri akan tepuk tangan dan memuji habis2an lampion kelas kami, sehingga penonton yang latah akan ikut tepuk tangan dan memuji hahahaha.

Dengan modal dari lampion tersebut kami mulai mengadakan bazar yang waktu itu saingan dengan kelas tetangga. Tau sendiri kalo kelas 3 yang bikin bazar maka yang akan menderita adalah kelas 1 dan 2. Mereka harus waspada dari bujuk rayu kakak kelas, dimana suasana sekolah menjadi tidak aman dan mencekam, paling aman adalah untuk tidak sering2 keluar dari kelas, setiap mau lewat lorong harus memastikan tidak ada kakak kelas yang jualan kupon bazar hahaha. Oh ya bazar ini cukup gede untungnya apalagi ada beberapa orang tua yang ngasih modal bahan dan gak mau diganti (padahal kita juga memang berharap gitu dari awal heheh).

Kita juga sesekali jualan di even2 sekolah, dengan mengambil barang dagangan tanpa bayar dari toko Rasdi *Apa kabar Bu’?*, dimana perjanjiannya yg laku aja yang dibayar, sedangkan yang tidak laku dikembalikan :) (hebat kan taktik dagangnya, makanya klo mo buat usaha modal bukan segalanya, masih ada jalan lain klo emang benar niat). Salah satunya yg saya paling ingat adalah saat ada acara berkemah pembuka khusus untuk anak kelas 1 di Bumper, disitu kita juga ikut bikin tenda untuk stand jualan ck ck ck (Pren2 masih ingat tragedi kayu ubi *yg seharusnya ubi kayu* dan ada yang pulang ngambek di tengah malam ?? hehhe).

Ditambah lagi wali kelas Bu Jen *halo Ibu Guru ku?* yang kompak untuk nyariin tender2 pesanan kue2 dan minuman di acara guru2. Alhasil akhirnya uang kas kita boleh dibilang ‘cukup’ untuk memesan lengan kiri jaket untuk seluruh kelas. Akan tetapi entah bagaimana dan yg pasti memang belum rejeki uang tersebut hilang dan berimbas anak2 jadi malas pesan jaket, dan tentang kejadian hilangnya uang tersebut tidak akan diceritakan disini karna saya juga gak terlalu paham ceritanya. Tapi jujur saya pribadi dan beberapa teman cowok gak terlalu kecewa (walopun sering diledekin kelas sebelah yang jadi beli jaket huhuhu), karna saat berjuang mencari uang itu lah sumber kebahagiaanya, bahkan tanpa memperoleh hasil prosesnya tadi (walopun mungkin lebih senang kalo dapat uangnya hehee). Yang saya ingat ketika bekerja disitu, saya dan teman2 tidak merasa terpaksa untuk melakukan semua tugas kerja untuk kelas, malahan merasa dapat aktivitas yang menyenangkan dilakukan bersama2 teman2 kelas.

Pengalaman ini cukup menjadi pelajaran bagi saya, makanya sejak saat itu saya bertekad dalam segala sesuatu ingin melakukan dengan senang, jika tidak senang akang diusahakan dan dirubah biar senang, atau ujung2nya take it or leave it kerjaan itu.

Coba bayangkan kalo apa yang kita buru hanya hasil saja, tanpa memperdulikan proses. Misalnya kita ingin jadi sarjana, selama memburu sarjana tersebut kita tidak melakukannya dengan senang, minimal 4 tahun kita sengsara, dan kemudian hanya senang ketika jadi sarjana yang hanya sekitar 1-2 bulan, karna setelah itu kita harus memasang target lain lagi seperti mencari kerja dan karena itu harus menunda kebahagiaan kita selama proses memperoleh target kita itu, dan begitu seterusnya sampai peot.. hehe.

Contoh lain adalah orang2 skarang yang cenderung bekerja habis2an walaupun banyak hal yang harus dikorbankan termasuk kebahagiaan saat ini dan amit2 kalo kebahagiaan di akhirat juga dikorbankan (Na’uzubillahi min dzalik), menanti saat bisnis sukses dan tinggal mengalir atau saat pensiun bisa menikmati hasil tabungan dan ivestasinya, gimana kalo 1 hari sebelum pensiun meninggal, gak sempat dong bahagia (itulah bedanya dengan memburu akhirat yg pasti dapat nanti pada waktunya). Makanya ayo kalaupun kerja keras, cobalah bahagia selama menjalaninya, dan tentunya nanti lebih bahagia saat sudah menikmati hasil akhirnya. Liat aja para siswa dan mahasiswa yang tidak bisa menikmati
proses belajar mengajar. Entah karena bidangnya yang tidak disukai,
atau suasana yang tidak menyenangkan, dan lebih banyak karena diri kita
sendiri yang tidak mengkondisikan suasana belajar yg asyik sejak awal.
Sampai2 hampir diadakan penelitian tentang efek bel pulang sekolah yang
akan diproduksi sebagai obat penghilang ngantuk hahaha. Kalau belajar tidak
menyenangkan kasian banget, makanya kalo ada adek kelas yg tanya
tentang pilihan sekolah atau jurusan, selalu saya jawab pilih yang kamu
benar2 sukai (dan juga disenangi Allah Subhanawata’ala juga tentunya), lupakan dulu tentang peluang kerja dan hal2 lain, karna
kalau kita melaksanakan segala sesuatu dengan senang dan penuh passion maka yakinlah sesuatu yg hebat pasti akan terjadi hehee.

Kadang2 saya suka jadi provokator ke teman2 untuk bertanya, apakah saat ini misalnya kita bekerja dan stress selama sebulan dan hanya bahagia ketika hari gajian atau weekend atau pulang kantor, kalau benar ayo berusaha bahagia dan nikmati daripada menyesal. Kalau tidak bisa coba pikirkan sekali lagi tentang pekerjaan itu, terlebih klo pekerjaan kita setelah ditimbang2 hampir tidak ada nilai2 dibaliknya selain mencari isi perut, dimana tidak ada nilai manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta yang paling utama agama.. Kenapa kita aneh, menyaman2kan sesuatu yg tidak nyaman, padahal pada prinsipnya malah kita sebaiknya jangan sampai terlalu lama masuk zona nyaman.

Sebagai penutup, mari do’a yuk ; ‘Ya Allah jadikanlah kami setiap saat bisa jadi lebih baik dan bahagia di dunia dan di akhirat nanti’.. Aminnn

Anaknya mau disekolahkan dimana?

Uncategorized February 2nd, 2008

Wuiiiiiiiiiiii dah setaun vakum cleaner bair mo coba ngeblog lagi, da’ tanggung2 isinya sok beraaaat :), tentang pendidikan bung…

Gak tau ya.. belakangan ini setiap melihat anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan menggunakan seragam selalu muncul perasaan kasihan. Btulan gak tau aja kenapa bisa kasihan hehehe, padahal kebanyakan dari mereka gayanya keren dan sambil bercanda-canda dengan teman-temannya, kok kasian sih.

Perasaan ini mungkin mengingat betapa susah payahnya dulu saya dan teman2 seangkatan lolos dari SD, SMP dan SMU di Indonesia yang kurikulumnya berat tetapi tidak karuan. Mulai dari arah dan sasaran pendidikannya yang tidak jelas, bentrok berbagai kepentingan yang kurang ajar, birokrasi yang kurang asem, fasilitas yang kurang asin, sampai ke lingkungan yang kurang kondusif.

Memang mungkin semua juga sudah tau tentang diatas, da’ butuh ulasan sok tau bair…, atau dalam hati akan berkata ‘Yang kita butuhkan ini solusinya IR’, ‘Jangan cuman OMDO dong’…….. Hmm justru karena itu saya nulis disini karna saya juga mo nanya heheeeeeeeeeeee.

Mungkin kali ini saya cuman mo cerita sesuatu yang saya sendiri alami. Disaat pengangguran dimana-mana, saya kesulitan untuk mendapatkan pekerja untuk mengisi lowongan yang spesifik di usaha saya dan tempat teman. Hmm rata-rata kebutuhan pekerjaan itu mensyaratkan kemampuan yang tidak disediakan di bangku sekolah formal. Jadi walaupun sarjana di Indonesia ini kalau hanya berharap mendapat suapan dari sistem yang ada saja, hampir tidak bisa diharapkan……

OOoooooooo iya mumpung ingat, saya mau keluarkan uneg2 disini, kira2 beberapa waktu setelah Indonesia menjadi juara dunia Olimpiade Fisika tingkat SMA, Menteri Pendidikan kita diwawancarai di salah satu TV swasta. Pada wawancara tersebut sang menteri berkata kalau ini merupakan bukti bahwa pendidikan kita bagus dan tidak seperti yang selama ini dituduhkan masyarakat. Waktu itu pengen sekali komentar ;’Pak ini justru menunjukkan sebaliknya. Buktinya anak2 yang juara Olimpiade Fisika tadi lahir bukan dari sistem pendidikan normal kita, akan tetapi lahir dari sistem mandiri dan perjuangan tim pendukung Olimpiade Fisika. Sedangkan yang ikut sistem standar sangat jauh dibawah mereka outputnya, padahal terbukti kan kalau dididik dengan benar hasilnya bisa mengguncang dunia seperti anak2 TOFI tadi’.Mungkin saya sok tau, dan gak tau perjuangan Pak Menteri yang sudah bersusah payah dan kurang tidur memikirkan kondisi pendidikan di negeri ini, cuman tolong kita semua sudah tau keadaannya seperti apa, gak perlu malu ama kita kok Pak, ini juga tanggung jawab dan masalah kami. Karna langkah awal untuk maju bersama adalah sadar dan mengakui kekurangan kita dulu, setelah itu baru bisa kita perbaiki’. (sabar2 , cup cup cup … Mas)

Di tempat kita nyaris sasaran dan alasan kenapa kita sekolah sangat aneh, dimana sekolah TK adalah bisa masuk SD, belajar di SD agar bisa masuk SMP, berangkat tiap hari belajar di SMP agar bisa masuk SMA, dan SMA hanya agar bisa kuliah (liat aja kenapa kita berlomba-lomba ikut bimbingan untuk SPMB). Kuliah ya agar bisa nambah panjang nama dengan gelar dan untung2an dapat kerja (ooo iya ada tambahan dari temanku, katanya lulus kuliah biar bisa cepat nikah :) ). Lalu bagaimana kalau ada yang DO dari SMP, pernahkah kita coba bayangkan apakah ilmu sosial dan alam selama SD dan SMP itu dapat diandalkan untuk hidup dan kerja layak. Apakah semua orang harus jadi ilmuwan atau pakar sehingga semua diarahkan kesana?? Apakah tidak sadar kalau angka putus sekolah di Indonesia sangat tinggi ?? Apakah tidak sadar kalau Allah menciptakan manusia itu dengan bidang dan bakat yang berbeda-beda??

Kenapa tidak sejak SD atau kalau bisa TK kita juga diajarkan live skill agar bisa menjadi hamba Allah yang taat, bisa mencari dan menciptakan ilmu sendiri, berpikir kritis dan kreatif, mengasah mental pantang menyerah dan lain-lain. Sungguh bukan suatu sarkasme kalau diakatakan disekolah Indonesia karakter kita tidak dibentuk malah dimatikan, dimana otak dicuci bahwa yang namanya ilmu itu hanyalah yang ada di buku Intan, Balai Pustaka, Tiga Serangkai dll.

Cukup generasi kita dan sebelum kita yang jadi korban. Ayo kita berbuat sedikit demi anak-anak kita. Kalau ingat dulu sempat berpikir kalau punya rejeki ingin anakku nanti bisa TK, SD di Saudi saja agar bisa belajar bahasa Arab dan belajar ilmu agama langsung dari sumbernya yang shahih, dan selanjutnya selain punya pondasi yang baik bagi dirinya nantinya bisa ngajarin keluarga dan sukur2 masyarakat sekitarnyanya :), baru setelah itu dia bebas mau jadi apa saja (asalkan Halal dan bermanfaat :)), ketimbang disiksa dengan kurikulum Sekolah Dasar kita yang berat minta ampun dan saya belum tau manfaat terbesarnya selain dapat hadiah lulus atau naik kelas.

Atau mungkin coba mengikuti salah satu jejak teman untuk menyekolahkan anak-anak di rumah dulu , toh kalau cuman masalah ijazah formal bisa ikut ujian persamaan dimana2 untuk melanjutkan. Atau bahkan jika PD saya rasa ijazah formal di masa depan tidak penting lagi :), mungkin orang lebih tertarik dengan orang yang punya sertifikasi yang diakui umum/internasional ketimbang ijazah formal Indonesia (jika sistemnya masih gak diperbaiki). Dan kalau hanya alasan bergaul masih banyak TPA atau media lain untuk bersosialisasi.

Alternatif lain adalah kebayang asyik juga kalau bisa ikut sekolah alam :), di Jawa sih sudah banyak sekolah alam yang bagus :) , hmm kalo nanti ditempatku gak ada ..hmm bikin aja kali ya hehhee (istriku senyum2 :) ). Atau kalaupun akhirnya terpaksa juga sekolah konvensional seperti biasa, gakpapa asalkan anak tidak terbebani untuk harus berprestasi disitu, dan menjadikan sekolah formal sbagai patokan keberhasilan anak kita.

NO OFFENSE ——– hanya uneg2 :)